coursor

Hetalia: Axis Powers - Taiwan

Sabtu, 27 April 2013

isolasi jamur dan bakteri




LAPORAN PRAKTIKUM
TEKNIK MEDIA TANAM
( ISOLASI JAMUR DAN BAKTERI DARI DALAM TANAH )



oleh :
KELOMPOK / GOL : 2/C
RETNOSARI APRIASTI
11150501079






PROGRAM STDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JEMBER
2012


BAB.1 PENDAHULUAN
1.1  Latar belakang
Tingkat kesuburan tanah dipengaruhi beberapa faktor antara lain keanekaragaman mikroba tanah, faktor iklim seperti suhu, curah hujan, kelembaban, faktor nutrisi dan lingkungan, serta populasi mikroba yang merupakan indikator tingkat kesuburan tanah. Mikrobia adalah hewan renik yang tidak kasat mata. Organisme yang tergolong mikrobia adalah jamur atau fungi dan bakteri. Tempat tinggal atau habitat mikrobia bermacam-macam sesuai jenis mikrobia itu sendiri. Di alam populasi mikrobia tidak terpisah sendiri menurut jenisnya, tetapi terdiri dari campuran berbagai macam sel biokimiawinya.
Dari segi fungsi metabolisme dan manfaat bagi manusia, terutama pada bidang pertanian, mikroorganisme tanah dapat dikelompokkan menjadi mikroorganisme yang merugikan (mencakup virus, jamur, bakteri dan nematoda pengganggu tanaman yang bertindak sebagai hama atau penyebab penyakit) dan mikroorganisme yang bermanfaat, yaitu sejumlah jamur dan bakteri yang kerena kemampuannya melaksanakan fungsi metabolisme menguntungkan bagi pertumbudhan dan peroduksi tanaman. Mikroorganisme tanah yang menguntungkan ini dapat dikategorikansebagai biofertilizer (pupuk hayati).
Pemanfaatan mikroba tanah untuk meningkatkan dan mempertahankan kesuburan tanah dalam sistem pertanian organik sangat penting. Peran mikroba dalam tanah antara lain adalah daur ulang hara, penyimpanan sementara dan pelepasan untuk dimanfaatkan tanaman dan lain-lain. Di dalam laboratorium HPT populasi bakteri dan jamur dapat diisolasi menjadi kultur murni yaitu pertumbuhan jasad renik yang diambil dari hasil suspensi dan dapat di pelajari morfologi, sifat dan kemampuanya. Untuk mempelajari karakteristik ekologi dan struktur mikrobia (jamur dan bakteri) maka dilakukan isolasi bakteri dengan cara pembuatan inokulum pada media DPA (Potato Dextrose Agar) dan NA yang melibatkan proses sterilisasi di dalamnya.

1.2  Tujuan
1.      Untuk mengetahui jumlah mirobia (jamur dan bakteri) yang ada di dalam tanah.
























BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
Menurut Allen dan Allen (1981) menyakan, tingkat kesuburan tanah dipengaruhi beberapa faktor antara lain keanekaragaman mikroba tanah; faktor iklim seperti suhu, curah hujan, kelembaban; faktor nutrisi dan lingkungan, serta populasi mikroba yang merupakan indikator tingkat kesuburan tanah (Purwaningsih, 2005).
Mikrobia mampu hidup di hampir semua tempat dan keadaan serta mampu bertahan dalam berbagai keadaan lingkungan seperti suhu, tekanan, PH, tingkat osmosis serta kadar air yang ekstrim. Mikrobia nersifat mikroskopis yaitu ukurannya yang sangat kecil sehingga tidak terlihat dengan mata telanjang. (Winamo, 1994)
            Jasad-jasad yang terdapat di dalam mikrobia dapat berperan, baik di bidang yang menguntungkan seperti proses pembuatan dan peningkatan nilai gizi, nutrisi, dan organoleptik (rasa dan bau) bahan makanan. Juga secara langsung peranan jasat-jasad sebagaimpenyebab penyakit pada tanaman, hewan dan manusia, serta jasad penghasil toksin (racun) yang membahayakan. (Suriawira, 1985)
            Setiap jasad hidup mikrobia memiliki sifat-sifat yang dapat digolongkan ke dalam dua komponen kegiatan, yaitu metabolisme dan pelestarian diri, untuk keberlangsungan hidup setiap mikrobia memerlukan sumber nutrien yang akan yang akan memasuki tubuh yang menyebabkan mikrobia bisa mengadakan aktifiitas, tumbuh, dan berkembang biak. (Unus, 1985)
            Mikroba ( jamur dan nematoda tanah )  memerlukan zat-zat gizi untuk pertumbuhanya, mereka memerlukan air, energi, nitrogen, vitamin dan mineral. Hal ini mudah dimengerti karena mikroba mirip manusia dalam hal kebutuhan akan makanan dan zat gizi agar hidup dengan sehat. Sumber energy yang paling banyak digunakan mikrobia adalah karbonhidrat termasuk gula dan terkadang alcohol. Asam amino juga digunakan sebagai sumber energi. (Winamo, 1992)
            Daya tahan mikrobia sangat tergantung pada banyak faktor separti konsentrasi aon hidrogen, kebutuhan air, tekanan oksigen, kandungan zat gizi dan senyawa penghambat. Kadar air dalam bahan makanan juga dikenal sebagai aktifitas air.  Mikrobia sangat memerlukan tersedianya cukup air  untuk tumbuh dan melangsungkan proses metabolisme dalam tubuhnya. (Winamo, 1994)
            Pada umumnya kepekaan yang berbeda-beda terhadap tekanan oksigen dalam udara lingkungan hidupnya dari medium pertumbuhanya. Hal ini banyak kaitanya dengan kemampuan medium atau substrat  untuk dapat menangkap atau melepas electron. (Winamo, 1992)
            Mikroba ( jamur dan nematoda tanah )  memiliki suhu maksimum agar mampu bertahan hidup. Di atas atau dibawah suhu maut terdapat kisaran yang sempit. Dalam kisaran tersebut masih ada mikroba yang hidup tetapi tidak mengalami pertumbuhan. Oleh karena itu ada kombinasi waktu dan yang diperlukan untuk membunuh suatu populasi mikroba. (Winamo. 1992)
            Inokulum murni tunggal terdiri atas satu jenis spora kapang. Inokulum campuran merupakan berbagai jenis mikroba seperti kapang, jamur, bakteri. Inokulum murni campuran dibuat dengan campuran Rhizopus oligosporus dan murni klebsiella yang merupakan bakteri penghasil vitamin B12. (Shurtteff dan Aoyagi, 1979 : 118)
Inokulasi merupakan proses memindahkan inokulum dari biakan ke inang. Inokulasi adalah suatu proses patogen atau unit-unit reproduksinya mengadakan kontak dengan tumbuhan. Setelah mengadakan inokulasi inokulum patogen tertentu (konidium jamur) harus berkecambah, terbentuklah germ tube (tabung kecambah) yang selanjutnya membentuk apresorium, berfungsi sebagai alat penetrasi. Pada patogen yang mengadakan penetrasi langsung biasanya dari apresorium dibentuk penetration peg (tabung infeksi), fungsinya untuk menembus kutikula dan dinding sel epidermis (Sastrahidayat, 1990).
Inokulasi dapat beberapa macam cara atau jenisnya, yaitu inokulasi jamur, inokulasi bakteri, dan inokulasi virus. Pada inokulasi jamur dilakukan melalui luka-luka dan stomata. Untuk inokulasi bakteri dibuat dengan cara penetrasi patogen dengan bantuan air. Inokulasi virus dibuat dengan cara melalui suatu kerusakan mekanis dan dengan perantara virus (Jutono, 1973).
Menurut Glycine max L. Merill (1998) menyatakan, Isolasi  dan  kerapatan  pengenceran  bakteri  endofit  pada  jaringan tanaman  kedelai mengarah  pada  efek  yang  menguntungkan  bagi  tanaman  inang  seperti  stimulasi pertumbuhan  tanaman  dan  resistensi  terhadap  patogen  tanaman.  Tujuan  penelitian  ini adalah untuk mengetahui efektivitas antagonisme asal isolat beberapa bakteri endofit dan kerapatan  pengenceran  dalam  mengendalikan  penyakit  busuk  batang  pada  tanaman kedelai (Tarigan dan Kuswandi, 2007).














BAB.3 BAHAN DAN METODE


3.1 Waktu dan Tempat
Percobaan dilakukan di laboratorium HTP tanggal 20 April 2012, pukul 07.00 WIB - selesai. Sedangkan pengamatan dilakukan di laboratorium HPT tanggal 21 - 24 April 2012

3.2  Alat dan Bahan
3.2.1  Alat
1.         Petri
2.         Timbangan analitik
3.         Fourtek
4.         Laminary air flow
5.         Pembakar bunshen
6.         Koloni counter
7.         Alat tulis
                         
3.2.2  Bahan
1.   Kertas pembungkus
2.   Alkohol 70%
3.   Aquades
4.   Tanah + sekam
5.   Tanah + organik
6.   Tanah
7.   Tanah pisang

3.3  Cara kerja
3.3.2 Isolasi bakteri pada Tanah
1.   Tanah diambil sebanyak 1 gram.
2.   Masukkan tanah ke tabung dengan tambahan aquades sebanyak 10 ml. Sampel yang mengandung bakteri diambal 1 ml dan dimasukan ke dalam tabung pengenceran pertama (1/10 atau 10-1) secara aseptis (dari preparasi suspensi) dengan aquades sebanyak 9 ml. Perbandingan berat sampel dengan volume tabung pertama adalah 1 : 9. Setelah sampel masuk lalu dilarutkan dengan dikocok.
3.   Diambil 1 ml dari tabung 10-1 dengan pipet ukur kemudian dipindahkan ke tabung 10-2 secara aseptis kemudian dikocok dengan membenturkan tabung ke telapak tangan sampai homogen. Pemindahan dilanjutkan hingga tabung pengenceran terakhir dengan cara yang sama sampai ke tabung 10-3.  Pipet ukur yang digunakan harus selalu diganti, artinya setiap tingkat pengenceran digunakan pipet ukur steril yang berbeda/baru.
4.       Suspensikan bahan yang mengandung bakteri atau campur bakteri seencer mungkin, maksutnya kelak supaya terjadi koloni-koloni yang terpisah sehingga mudah diisolasi.
5.         Cairkan nutrien agar berupa NA dalam penangas air.
6.         Dinginkan nutrien agar NA tersebut sampai suhu 45 - 500C, Seterilkan tangan dengan alcohol.
7.         Petri dipanaskan pada pinggirannya dengan cara diputar-putar diatas pembakaran bunshet.
8.         Ambil campuran bakteri 1 ml masukkan campuran bakteri kedalam petri yang telah terisi asam asetat 2 tetes, kemudian tutup dan seterilkan.
9.         Masukkan nutrien agar NA ke petri dan tutup, kemudian seterilkan kembali, putar petri untuk menghomogenkan suspense bakteri.
10.  Gambar:
11.     Inkubasi selama 24 – 72 jam lalu amati.

3.3.1 Isolasi jamur pada pada tanah
1.   Sebelum melakukan percobaan di dalam lamina, tangan disterilkan dengan menggunakan cairan alkohol dengan cara disemprot kemudian diusapkan agar merata.
2.   Petri dipanaskan pada pinggirannya dengan cara diputar – putar di atas pembakar bunshen.
3.   Mengambil hasil pengenceran tanah 1 ml dengan menggunakan pipet, kemudian menuang ke dalam cawan petri steril yang telah berisi asam asetat dua tetes.
4.   Menuang medium PDA dengan suhu 45 – 500C ke dalam cawan petri tersebut.
5.   Inokulum yang ada dalam petri diinkubasi dalam inkubator dengan posisi cawan terbalik selama 2-4 hari.
6.   Diamati populasi jumlah jamur.
7.   Dituliskan hasilnya dalam tabel pengamatan.




























BAB.4 HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil
kelompok
Media
perlakuan
Hari ke
1
2
3
4
1
KNO
Jamur
-
0
-
0
Bakteri
369
699
786
846
2
SNO
Jamur
-
150
-
210
Bakteri
1041
1603
1708
1809
3
BNO
Jamur
-
4
-
38
Bakteri
906
913
1018
1088
4
Tanah Pisang
Jamur
-
100
-
121
bakteri
505
540
585
700

4.2 Pembahasan
            Tanah merupakan salah satu tempat hidup dari mikroorganisme tanah (jamur dan bakteri). Bakteri dan jamur merupakan patogen tumbuhan yang dapat dibiakkan pada banyak medium, seperti medium padat, medium cari dari yang umum maupun yang selektif. Medium untuk pembiakan jamur adalah medium PDA (Potato Dextrose Agar). PDA merupakan suatu medium yang mengandung karbonhidrat dalam jumlah cukup yang terdiri dari 20% ekstrak kentang dan 20% glukosa. Sehingga PDA sangat baik untuk pertumbuhan jamur atau kapang. Sedangkan pada bakteri medium untuk membiakkanya dengan menggunakan medium NA (Nutrien Agar).
            Pada percobaan isolasi jamur yang digunakan adalah bahan dari pengenceran  tanah SNO. Hasil pengenceran tanah SNO diambil dengan pipet sebanyak 1ml dan dipindah ke cawan petri, kemdian menambahkan medium PDA. Kemudian dari percobaan tersebut dapat diamati bahwa jamur yang tumbuh paling banyak didapati pada tanah SNO hal ini karena pada media SNO terdapat campuran sekam dimana dalam sekam terkandung unsure N yang disana dapat memacu tumbuhnya jamur. Sehigga data yang didapatkan jumlah jamur untuk SNO lebih banak dibanding dengan yang lain yaitu sebanyak 150 dan 210 pada hari ke 3 dan ke 4.tetapi pada tanah pisang jumlah tumbuhnya jamur pada media agar PDA hanya berbeda selisih sedikit dengan SNO. Sedangkan pada media KNO tidak ada jamur yang tumbuh hal ini di karenakan pada media KNO tidak ada unsure yang mendukung pertumbuhan atau timbulnya jamur. Untuk media BNO yang tumbuh pada hari ke dua adalah berjumlah 4 dan 38 pada hari ke empat, karena media ini terdapat kandungan kompos, sedangkan kompos merupakan bahan campuran media yang tidak steril dimana terdapat mikroorganisme (jamur dan bakteri) yang tumbuh didalamnya tetapi relative sedikit.
            Isolasi bakteri menggunakan bahan dari tanah SNO. Isolasi dilakukan pada cawan petri yang sudah steril. Tanah SNO dibuat suspense dengan cara mengambil dan menimbang sebanyak 1 gram dan masukkan ke gelas reaksi yang dicampur dengan aquades. Bakteri yang sudah tercampur dengan air kemudian diambil 1ml dan ditumbuhkan pada media NA. Pada percobaan isolasi bakteri dapat diamati bahwa bentuk koloni bakteri  bulat ada yang besar dan yang kecil. Koloni bakteri dapat dihitung menggunakan alat yang dinamakan mortal alu dan warnanya kuning keputihan. Dari data didapatkan bahwa tumbuhnya bakteri yang paling banyak adalah pada tanah SNO yaitu 1041 sampai 1809, campuran sekam dimana dalam sekam terkandung unsure N yang disana dapat memacu tumbuhnya bakteri dan jamur. Sedangkan pada BNO menghasilkan bakteri yang berbeda tipis yaitu 906 sampai 1088, hal ini karena pada BNO terdapat campuran kompos yang juga memungkinkan untuk pertumbuhan bakteri. Hasil bakteri yang dikembangkan dalam media agar NA untuk tanah KNO dan tanah pisang hanya berjumlah sedikit, dibandingkan dengan SNO dan BNO,  untuk KNO yaitu 369 sampai 846, sedangkan unuk tanah pisang 505 – 700, karena tanah tersebut hanya terdapat sedikit unsur yang memacu timbulnya atau tumbuhnya jamur.
Isolasi mikrobia dilakukan guna untuk mendapatkan biakan murni yang setril dan yang kemudian hasilnya diteliti untuk kepentingan di bidang pertanian. dalam  kegiatan isolasi mikrobia perlu dilakukanya sterilisasi yaitu bertujuan untuk menghindari dari terkontaminasi oleh mikrobia – mikrobia yang tidak ingin ditumbuhkan dalam media agar. Perkembangbiakan jamur dan bakteri akan dipengaruhi oleh beberapa unsur nutrisi yang dibutuhkannya baik itu dalam jumlah makro maupun mikro.
                       



















BAB.5 PENUTUP


3.1 Kesimpulan
            Mikrobia (jamur dan bakteri) merupakan jasat renik yang tidak kasat mata. Jamur dan bakteri dapat di tumbuhkan dalam berbagai medium yaitu dengan cara mengisolasi mikrobia. Isolasi mikrobia bertujuan untuk mendapatkan biakan murni yang setril dan yang kemudian hasilnya diteliti untuk kepentingan di bidang pertanian. Prinsip dari isolasi bakteri adalah memisahkan suatu jenis mikrobia dengan mikrobia lainya yang berasal dari jenis mikroba tercampur dengan menumbuhkan pada media padat sehingga dapat diperoleh kultur murni.


















DAFTAR PUSTAKA
Jutono, S. 1973. Isolasi Bakteri dan Jamur. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama

Purwaningsih, S. 2005. Isolasi, Enumerasi, dan Karakterisasi Bakteri Rhizobium dari Tanah Kebun Biologi Wamena, Papua. Jurnal Biodiversita  6(2) : 82-84.

Sastrahidayat. 1990. Isolasi Bakteri. Bandung : ITB

Shurtteff dan Aoyagi, A. 1979. Miktrobiologi. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama

Tarigan dan Kuswandi. 2007. Efektivitas  Asal Isolat Bakteri Endofit Dan Kerapatan Pengenceran Dalam Mengendalikan  Penyakit Busuk Batang (Sclerotium Rolfsii Sacc) Pada Tanaman Kedelai. Jurnal.

Unus, S. 1999. Mikrobiologi. Cetakan ketiga. Jakarta : Univesitas Terbuka.

Winarno, F. G. 1994. Sterilisasi Komersial Produk Pangan. Jakarta : Gramedia