coursor

Hetalia: Axis Powers - Taiwan

Senin, 20 Mei 2013

PEMBUATAN MEDIA TANAM PADAT



Description: images.jpg







LAPORAN
PEMBUATAN MEDIA TANAM PADAT



Kelompok 2
Oleh :
Retnosari Apriasti
111510501079


JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JEMBER
2011

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Tanaman sawi merupakan tumbuhan darimarga Brassica yang dapat dimanfaatkan daun dan bunganya sebagai bahan pangan untuk sayuran.  Tanaman sawi sering dijumpai di berbagai daerah kususnya indonesia karena petani banyak yang memilih menanam sawi. Untuk membudidayakan sawi relative cukup mudah dan konsumen sawi di Indonesia tidak pernah menurun jumlahnya sehingga banyak petani yang membudidayakan tanaman sawi. Sawi cocok dikembangkan didaerah Indonesia karena mempunyai iklim, cuaca dan tanahnya yang sesuai. Tanah yang cocok untuk mendukung pertumbuhan tanaman sawi adalah tanah gembur, banyak mengandung humus, subur, serta pembuangan airnya baik atau aerainya baik dan mempunyai derajat kemasaman (pH) tanah yang optimum antara pH 5,5 sampai pH 7,5 (netral keasaman).
Faktor penentu keberhasilan usaha tani tergantung dari benih yang digunakan dan pemeliharaannya. Benih yang mempunyai kualitas yang baik dan sehat akan menghasilkan tanaman yang pertumbuhannya bagus. Pemeliharaan merupakan hal yang sanga penting dan berpengaruh terhadap hasil yang akan didapat. Dalam memelihara tanaman yang perlu diperhatikan adalah penyiraman, peniangan dan pemupukan, penyiraman ini tergantung pada kondisi cuaca setiap harinya atau musim, bila musim penghujan dirasa berlebih maka kita perlu melakukan pengurangan air yang ada, tetapi sebaliknya bila musim kemarau kita harus menambah air demi kecukupan tanaman sawi yang di tanam. Bila cuaca tidak terlalu panas penyiraman dapat dilakukan sehari cukup sekali, sore atau pagi hari. penyiangan adalah penggantian tanaman yang mati dengan tanaman baru (berumur sama). Penyiangan dapat dilakukan 2 – 4 kali selama masa pertanaman sawi. Penyiangan dilakukan 1 atau 2 minggu setelah penanaman dan dilakukan penggemburan agar tanaman yang baru mampu menembus tanah dengan mudah. Pemupukan dilakukan pada umur 7 dan 14 hari setelah tanam, dan dalam pemupukan harus jauh dengan perakatan tanaman.
Penanaman dilakukan ketika umur bibit sudah cukup untuk ditaam dalam media yang berada dalam polibag. Masa pemanen untuk tanaman sawi adalah 35 hari setelah tana. Dalam menunggu masa panen sawi perlu dipelihara dan dirawat sebaik mungkin, budidaya tanaman sawi perlu perhatian cukup intensif karena tanaman sawi mudah layu jika terkena panas dan juga bila kekurangan air. Oleh karena itu dalam praktikum kali ini dilakukan pembuatan media tanam padat untuk tanaman sawi dengan membuat kombinasi media dengan komposisi tertentu untuk medapatkan komposisi yang ideal dalam pertumbuhan tanaman sawi serta dilakukan penanaman mulai dari bibit sampai pemanenan untuk mengetahui pengaruh kombinasi media yang ideal untuk pertumbuha tanaman sawi dan hasil panenya.

1.2  Tujuan
Tujuan dilaksankannya praktikum acara 2 dengan judul Rekayasa Media Padat ini adalah :
1.      Untuk mendapatkan formulasi komposisi media tanaman yang ideal untuk tanaman sawi.
2.      Mengetahui cara budidaya tanaman sawi yang baik.













BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
            Sayur berperan sebagai sumber pertumbuhan baru untuk dikosumsi dalam rangka pemenuhan gizi, meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Semakin lama permintaan akan komoditas sayuran cenderung mengalami peningkatan setiap tahunnya antara 3,9%. Dapat dibuktikan dengan peningkatan konsumsi sayuran di Indonesia, untuk itu usahatani dalam pembudidayaan sayuran memiliki peluang dan prospek yang lumayan besar dan sangat baik untuk dikembangkan di wilayah indonesia (Choliq, 2009).
            Perkembangan produksi tanaman sawi sudah meluas hingga mancanegara. Budidaya sawi nakin meluas dan bahkan sampai dibelahan dunia yang daerah atau kawasan pertaniannya cukup dikenal. Di Indonesia perakitan varietas-varietas unggul lebih dikembangkan termasuk pada jenis hibrida maupun non-hibrida dan petani di indonesia banyak yang membudidayakan tanaman sawi (Rukmana, 1994).
            Sayuran yang mempunyai prospek yang lumayan yaitu sawi (Brassica Juncea L.). Sayuan Sawi banyak dikonsumsi oleh masyarakat karena banyak mengandung vitamin dan kaya akan serat. Tanaman sawi membutuhkan unsure hara berupa nitrogen. Nitrogen dalam tanaman merupakan unsure hara makro yang penting bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Ketersedian unsure yang terbatas menyebabka perlunya pemupukan pada tanaman. Ketersediaan nitrogen dipengaruhi oleh berbagai faktor salah satunya adalah gulma, dimana akn terjadi masalah seperti perebutan unsure hara antar tanaman sawi dan gulma sehingga pertumbuhan sai tidak optimal (Tumewu, 2009).
Faktor lain yang mempengaruhi pertumbhan tanaman sawi adalah tanah. Tanah adalah sebuah komponen dari keseluruhan ekosistem dan tidak dapat dilepaskan dari  kesehatan ekosistem tersebut. Di bidang pertanian, tanah yang sehat  memiliki kondisi  fisik, kimia dan biologis optimal untuk produksi tanaman dan memiliki kesanggupan untuk menjaga  kesehatan tanaman serta kualitas ekosistem yang mencakup air dan tanah da juga tidak mengandung nematoda dan patogen Tanah sehat dan subur merupakan  sistem hidup dinamis yang dihuni oleh berbagai organism (mikro flora, mikro fauna, serta meso dan makro fauna). Organisme tersebut saling berinteraksi membentuk suatu rantai makanan sebagai manifestasi aliran energi dalam suatu ekosistem untuk membentuk tropik rantai makanan (Hindersah, 2004).
Budidaya tanaman sawi harus lebih diperhatikan khususnya pada kondisi iklim, daerah penanamannya, maupun jenis tanahnya, iklim yang cocok yaitu iklim yang tidak berhawa panas, tanaman ini lebih menyukai hawa dingin dengan suhu Tanaman sawi dapat tumbuh dengan baik didaerah pegunungan yang tingginya lebih dari 100 m dpl dan jenis tanah yang sesuai ialah tanah lempung yang subur dan cukup menahan air atau porositasnya baik (Purwono, 2007).
Hal – hal yang perlu diperhatikan utuk budidaya tanaman sawi adalah pemberian air, jangan sampai kelebihan maupun kekurangan karena tanaman sangat membutuhkan air dalam makan maupun berfotosintesis, pemberian air yang baik yaitu harus sesuai dengan kapasitas lapang (kapasitas pegang air tanah), kadar C, N, P, dan K tanah, selain itu pengawasan perlu dilakukan dengan tujuan agar mengetahui pertumbuhan tanaman (percepatan pertumbuhan tinggi tanaman dan tunas), serta populasi bakteri dan jamur serta hama yang mengganggu (Djajadi, 2010).
Pupuk yang baik untuk digunakan yaitu pupuk organik seperti kompos, pupuk kandang, atau pupuk bokashi yang menggunakan teknologi mikroorganisme. Sedangkan pupuk yang sering digunakan oleh petani yaitu pupuk kompos, kompos seniri adalah bahan organic yang telah mengalami proses pembusukan dan pelapukan karena adanya bakteri pembusuk, pemberian kompos itu sendiri sebagai upaya untuk memperbaiki sifat kimia, fisika, dan biologi tanah sehingga produksi tanaman menjadi optimal (Supriati, 2010).
            Penyemaian benih sawi sangatlah mudah tetapi harus melalui proseur atau tahap-tahap yang benar didalam penyemaiannya, yang pertama yaitu semai benih pada tempat yang sudah disediakan, menjaga kelembaban tanah dengan menyiramnya secara teratur, memindhkan bibit yang sudah tumbuh kedalam pot, kemuian lakukan penyiraman secara intensif, lakukan penyulaman apabila terapat salah satu bibit mati, pemupukan perlu dilakukan sekitar 10 hari setelah dipindahkan kedalam pot atau polibag (Haryanto, 2006).
            Selain penanaman di pot atau polibag teknik penanaman sayuran dengan teknik vertikultur juga baik untuk dikembangkan lebih luas. Teknik vertikultur dapat diartikan sebagai cara buidaya tanaman secara bertingkat atau bersusun secara vertical. Biasanya teknik ini digunakan untuk tanaman semusim seperti sayuran maupun tanaman hias. Kelebihan dari teknk ini salah satunya adalah dapat menghemat lahan dengn hasil maksimal serta apabila dalam skala yang besar dapat menambah sumber ekonomi (Nurlaela, 2000).





















BAB 3. METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum acara 2 teknik media tanam dengan judul “rekayasa media padat” dilaksanakan mulai tanggal 2 maret 2012 sampai rentang waktu 35 hari, yakni berakhir pada tanggal 5 april 2012 dilaksanakan di lahan agroteknopark universitas jember.

3.2 Bahan dan Alat
3.2.1 Bahan
1.        Tanah
2.        Kompos
3.        Polybag
4.        Sekam
5.        Air
6.        Bibit sawi

3.2.2 Alat
1.        Timba plastik
2.        Ayakan 2 mm
3.        Karung plastik
4.        Timbangan
5.        Cangkul

3.3 Cara Kerja
1.        Mengambil contoh tanah
2.        Mengeringanginkan pada tempat yang telah disediakan (kering angin)
3.        Mengayak dengan saringan lolos 2 mm
4.        Menyiapkan plastik untuk alas hasil ayakan tanah dan kantong plastik sebagai tempat hasil ayakan
5.        Menyiapkan pasir, tanah, kompos, sebagai campuran media
6.        Mencampur bahan tersebut sesuai dengan  petunjuk praktikum, memasukkan dalam pot plastik (polibag), menyiram sampai kapasitas lapang
7.        Menanam bibit sawi yang telah disiapkan
8.        Menyiram setiap hari (bilamana perlu dan kering)
9.        Mengamati dan menyiram dengan air setiap hari
10.    menimbng berat media tanam tersebut untuk mengetahui kapasitas lapang, dan menjaga dari gangguan hama dan penyakit
11.    Setiap minggu tanaman diamati tinggi tanam, dan jumlah daun
12.    Setelah tanaman berumur 35 hari, mengamati tinggi tanamannya dan memanennya
13.    Menimbang brangkasan masing-masing perlakuan ditimbang di labolatorium semua hasil yang telah didapatkan, membuat laporan.



















BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
No.
kelompok
Perlakuan
Kapasitas Lapang
Pemberian Air
Tinggi Tanaman
Jumlah Daun
Berat Basah Tanaman

1
1
KNO
2,3
136,9 ml
8,18 cm
6 helai
3,5 gram

2
2,5 kg
131 ml
7,2 cm
5 helai
8 g

3
2,1
8,5 ml
6,3 cm
4,3
7 gram


4

2,3

420 ml

3,5cm

4 helai


16 gram

5

2,5

137,1

12,2

5 helai

10,5 gram

6

2,3

209,8 ml

6,75 cm


5,5helai

7 gram

2
1
KNP
2,5
221,4 ml
5,9 cm
4 helai
8,6 gram

2
2,4 kg
157 ml
4 cm (M) 13 hst
3 helai (M) 13 hst
M

3
2,25
14,2 ml
5,1 cm
3,6
4 gram

4

2,2

470 ml

4,5 cm

4 helai


8 gram

5
2,5

202.8 ml

11,5 cm
5 helai

96 gram


6

2

418,8 ml


5,35 cm (M)
30hst

4 helai (M)
30 hst

0

3
1
BNO
2,55
120,62 ml
5,44 cm
5 helai
3,7 gram

2
2,4 kg
38 ml
8 cm
6 helai
16 g

3
2,3
37,4 ml
6,83 cm
4,6
13 gram

4

2,35

250 ml


3 cm


3 helai


20 gram

5
2,5
148,5 ml
12,25 cm
5 helai
80 gram

6

2,4


50 ml


6,65 cm


5,8 helai

5 gram

4
1
BNP
2,4
51,09 ml
5,48 cm
4 helai
2,0 gram

2
2,4 kg
50 ml
2,5 cm (M) 13 hst
3 helai (M)13 hst
M

3
2,3
82 ml
5,7  cm
4,1
10 gram

4

2,4

120 ml

4,5cm

3 helai


58 gram

5
2,4
160 ml
10,5 cm
6 helai
100 gram

6

2,4

50 ml

8,05 cm

4,5helai

75 gram

5
1
SNO
2,4
6,25 ml
7,04 cm
5 helai
6 gram

2
2,4 kg
20 ml
5 cm (M) 28 hst
4 helai (M)28 hst

M

3
2,4
18,5 ml
5,5 cm
4
4 gram

4

2,4

250 ml

4 cm
4,7 hst

3 helai(M)
4 hst

M


5
2,5
51,4 ml
11,8 cm
5,6 helai
106 gram

6

2,5

40 ml

5 cm


4,3helai


2 gram


6
1
SNP
2,55
92,18 ml
7,42 cm
5 helai
32,3 gram

2
2,4 kg
17 ml
4,2 cm (M) 13 hst
3 helai (M)13 hst
M

3
2,4
10 ml
5,08 cm
4,5
3 gram

4

2,4

120 ml

3,7 cm


3 helai

15 gram

5
2,4
54,2 ml
11,4 cm
5 helai
111 gram

6

2,4


10 ml

4 cm (M)
27 hst

4 helai (M)
27hst

0


4.2 Pembahasan
            Pembuatan media tanam tidaklah gampang tetapi harus melalui beberapa tahap yang pertama adalah pengambilan media yag akan digunakan. Media yang digunakan dalam pembuatan media padat ini adalah tanah dan komposisi lainnya seperti sekam dan kompos. Pegambilan tanah dilakukan dengan menggunakan cangkul yang kemudian dimasukkan dalam karug plastik dan tanah yang telah diambil tidak langsung digunakan tetapi harus dikeringanginkan terlebih dahulu agar mendapatkan tanah yang ideal untuk diproses dalam pembuatan media tanam padat. Setelah pengeringan selesai tanah baru di haluskan dan di ayak menggunakan ayakan 2 mm, hal ini dikarenakan untuk memperoleh tanah yang halus dan tidak padat.
            Pembuatan media tanam untuk sawi dalam praktikum ini menggunakan enam (6) kombinasi dengan bahan tanah, sekam, kompos, pupuk Urea. Kombinasi I (KNO) yaitu menggunakan bahan campuran tanah saja dengan berat 2kg, kombinasi II (KNP) sama dengan KNO tetapi perbedaanya untuk KNP adalah perlakuan yang diberi pupuk sebanyak 5g setelah tanam sawi, kombinasi III (SNO) yaitu menggunakan bahan cmpuran dari tanah dan sekam dengan perbandingan 20 : 1(200kg tanah + 100g sekam), kombinasi IV (SNP) ) yaitu menggunakan bahan cmpuran dari tanah dan sekam dengan perbandingan 20 : 1(200kg tanah + 100g sekam) serta perlakuan pemberian pupuk urea 5g, kombinasi V (BNO) yaitu menggunakan bahan cmpuran dari tanah dan bahan organik (kompos) dengan perbandingan 20 : 1(200kg tanah + 100g kompos), dan kombinasi VI (BNP) yaitu menggunakan bahan cmpuran dari tanah dan kompos dengan perbandingan 20 : 1(200kg tanah + 100g kompos) serta perlakuan pemberian pupuk urea 5g. media yang baik untuk mendukung pertumbuhan tanaman harus memiliki kapasitas lapang. Kapasitas lapang adalah keadaan tanah yang sesui dengan syarat meidia tanam untuk tanaman. Untuk membuat media menjadi kapasitas lapang adalah dari setap kombnasi dicampur hingga merata setelah itu ambahkan air sedikit demi sedikit dengan mengaduk – aduk tanah tetapi tidak diremas – remas agar tidak menggumpal padat, air yang ditambahkan untuk membuat media kombinasi menjadi kapasitas lapang adalah 100ml, jadi keadaan tanah tidak jenuh air dan tidak kering, setelah itu baru menimbang dan mencatat berat media yang sudah menjadi kapasitas lapang dan selanjutnya siap untuk ditanami bibit sawi.
            Dari hasi pegamatan kombinasi media yang paling baik adalah pada kelompok 5 dimana didapati hampir semua tanamanya tumbuh dengan baik dan menghasika berat basah tanaman paling besar dibanding dengan kelompok yang lainnya. Pada kombinasi SNP yang mempunyai hasil pada berat basah tanaman sebesar 111 gram, hal ini dikarenakan perlakuan yang tepat dimana untuk peniraman air yang ditambahkan tepat dengan kapasitas lapang, cara pemupukannya yang benar juga dapat mempengaruhi tumbuhnya tanaman secara optimal dan menghasilkan tanaman yang baik. Sedangkan perlakuan yang tidak baik dapat menyebabkan tumbuhan tidak tumbuh optimal atau mati. Oleh karena itu faktor pemeliharaan tanaman sangat penting untuk diperhatikan agar hasil budidaya tanaman baik. Tanaman sawi yang mati disebabkan oleh banyak hal diantaranya pupuk yang diberikan terlalu pekat sehingga konsentrasi pupuk lebih tinggi dari pada konsentrasi akar, pemberian pupuk yang terlalu dekat dengan akar, kelebihannya air karena hujan sehingga menggenang di dalam media sehingga menyebabkan akar sawi busuk,  bibit yang digunakan kurang begitu baik bisa dikatakan tidak sehat dan bibit yang ditanam tidak berupa pembibitan yang berada dalam sosis tetapi dari pembenihan langsung di aplikasikan ke media tanam padat dengan perlakuan yang berbeda serta perakaran bibit pendek menyebabkan akar kurang dapat menyerap nutrisi yang ada pada media tanam.
Dari data hasil pengamatan menunjukkan bahwa setiap perlakuan memiliki hasil yang berbeda – beda salah satunya adalah pemberian air. Dari data golongan pemberian air yang terbanyak adalah pada kelompok 5 yaitu  media KNP, hal ini dikarenakan oleh beberapa faktor yaitu faktor cuaca dan kombinasi media yang terkandung dalam mediatanam untuk tanaman sawi. Pada kombinasi KNP tidak ada campuran apapun kecuali tanah saja sedangkan untuk SNP dan BNP memiliki campuran dari sekam dan kompos, oleh karena itu pada media KNP membutuhkan penambahan air yang cukup banyak karena tidak ada media campuran yang membantu tanah untuk menyerap air dan menyimpan air. Sedangkan untuk media yang mempunyai campuran memiliki daya untuk menyerap air dan daya menahan air lebih kuat.
            Dalam praktkum ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk mendapatkan hasil tanaman yang lebih baik dan bagus, yaitu dalam pemeliharaan tanaman sawi harus diperhatikan karena tanaman sawi sangat mudah mengalami kelayuan selain itu juga dalam pemilihan bibit. Pemeliharaan yang dimaksut disini adalah penyiraman, pemupukan dan penggemburan tanah. Penyiraman dilakukan apabila tanah mengalami kekeringan atau tidak dalam kondisi kapasitas lapang. Penyebab matinya tanaman kebanyakan disebabkan oleh faktor pemupukan yang salah yaitu pemupukan yang terlalu dekat dengan daerah perakaran tanaman sawi seli itu juga faktor dari bibit yang memiliki perakaran pendek sehingga tidak mampu untuk mengambil unsur yang tersedia dalam tanah. Penggemburan tanah bertujuan untuk menjaga media tanam tetap dalam keaadaan gembut sehingga mudah untuk menyerap air dan ditembus oleh akar.













BAB 5. PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Faktor banyaknya pemberian air yaitu faktor cuaca dan kombinasi media campur yang terkandung dalam media tanam untuk tanaman sawi. Kematian tanaman sawi disebabkan oleh banyak hal diantaranya pemberian pupuk, kelebihannya air karena hujan sehingga menggenang di dalam media sehingga menyebabkan akar sawi busuk,  bibit yang digunakan kurang begitu baik. Pengaruh dari hasil tanaman yang bagus dikarenakan pemeliharaan yang baik dan teratur, telaten. Dari pembuatan media dengan 6 kombinasi perlakuan dan 6 kombinasi ulangan digunakan untuk mengetahui media yang ideal untuk tumbuh tanaman sawi.

5.2 Saran
            Di dalam praktikum praktikan harus lebih memperhatikan perawatan dan pemeliharaan tanaman sawi. Untuk pemeliharaan tanaman sawi memerlukan perlakuan yang intensif untuk mendapatkan tanaman yang mempunyai kualitas dan kuantitas yang optimal serta tumbuh dengan baik











.
DAFTAR PUSTAKA

Choliq, A. 2009. Prospek Usahatani Tanaman Sayuran di Kabupaten Brebes. Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanin vol 12 (2):135-145.

Djajadi. 2010. Pengaruh Media Tanam dan Frekuensi Pemberian air Terhadap Sifat Fisik, Kimia dan Biologi Tanah Serta Pertumbuhan Jarak Pagar. Jurnal Littri vol 16(2):64-69.

Haryanto, E. 2006. Sawi dan Selada. Jakarta: Penebar Swadaya.

Hidersah, R. 2004. Potensi Rizobakteri Azotobkteri dalam Meningkatkan Kesehatan Tanah. Jurnal Natur Indonesia vol 5 (2):127-133.

Purwoko. 2007. Budidaya 8 Jenis Tanaman Pangan Unggul. Jakarta: Penebar Swadaya.
Rukmana, R. 1994. Bertanam Petsai dan Sawi. Yogyakarta: Kanisius.
Supriati,Y. 2010. 15 Sayuran Organik dalam Pot. Jakarta: Penebar Swadaya.
Supriati, Y. 2000. Taman Sayur + 19 Desain Menarik. Jakarta: Penebar Swadaya.
Tumewu, P. 2009. Pertumbuhan Gulma Teki Akibat Pemupukan Nitrogen pada Budidaya Tanaman Sawi di Desa Modayang. Soil Environment vol 7(1):15-17.



1 komentar:

  1. Media tanam memegang peranan penting bagi pertumbuhan dan kesehatan tanaman sirih merah. Salah satu syarat media tanam yang baik adalah porositas yaitu kemampuan media dalam menyerap air dan steril. Tingkat porositas tanaman di setiap daerah berbeda-beda, di daerah dataran rendah yang berudara panas, tingkat penguapannya tinggi, media harus mampu menahan air sehingga tidak mudah kering. Media harus terbebas dari organisme yang dapat menyebabkan penyakit, seperti bakteri, spora, jamur dan telur siput (Harsono 1992) UFA

    BalasHapus