coursor

Hetalia: Axis Powers - Taiwan

Sabtu, 18 Mei 2013

PERKECAMBAHAN BENIH PEPEYA



BAB 1. PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Tanaman pepaya berbentuk perdu yang tingginya mencapai 3 m. btangnya berongga karena intinya (galihnya) berupa sel gabus dan batangnya lunak berair. Bekas kedudukan tangkai daun meninggalkan tanda seperti ruas. Pada musim hujan ruasnya panjang, sedangkan musim kemarau ruasnya pendek sesuai dengan kecepatan pertumbuhan tanamn. Daunnya bercangap menjari dengan tangkai daun yang panjang dan berlubang pula. Buahnya bergetah dan getahnya makin hilang pada saat mendekati papain yang bersifat proteolitik (merombak protein).
perkecambahan adalah proses pertumbuhan embrio dan komponen-komponen biji yang mempunyai kemampuan untuk tumbuh secara normal menjadi tanaman baru. Komponen biji adalah struktur lain di dalam biji yang merupakan bagian kecambah, seperti calon akar (radicle), colon daun/batang (plumule) dan sebagainya. Sebelum embrio memulai aktivitasnya, selalu didahului dengan proses fisiologis hormon dan enzim. Dengan demikian, ada dua jenis aktivitas di sini, yaitu aktivitas morfologi dan aktivitas kimiawi. Aktivitas morfologi ditandai dengan pemunculan organ-organ tanaman seperti akar, daun dan batang. Sedangkan aktivitas kimiawi diawali dengan aktivitas hormon dan enzim yang menyebabkan terjadinya perombakan zat cadangan makanan seperti karbohidrat, protein, lemak. Proses kimiawi berperanan sebagai penyedia energi yang akan digunakan dalam proses morfologi, dengan demikian kandungan bahan kimia yang terdapat dalam biji merupakan faktor yang sangat menentukan dalam perkecambahan biji. Tipe perkecambahan biji tanaman ada dua macam yang ber-beda terletak pada posisi keping biji (kotiledon) pada permukaan tanah. Tipe pertama adalah epigeal dan yang kedua hipogeal. Perkecambahan biji ditentukan oleh faktor dalam dan faktor luar. Faktor dalam yang dikontrol oleh genetik tanaman menentukan mudah tidaknya atau cepat lambatnya perkecambahan.
Sehubungan dengan hal tersebut, maka praktikum ini perlu diadakan untuk mengetahui faktor – faktor yang mempengaruhi perkecambahan benih dan untuk mengetahui perkecambahan benih pepaya yang  dipengaruhi oleh kulit benih atau akibat terkaitan dengan kebutuhan cahaya.

1.2  Tujuan
1.        Mahasiswa mempelajari faktor – faktor yang berpengaruh terhadap perkecambahan benih.
2.        Mahasiswa dapat mengetahui faktor – aktor yang berpengaruh terhadap perkecambahan benih pepaya.























BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
            Pepaya adalah tanaman asal dari Amerika Tengah. Pepaya yang dahulu hanya ditanam di pekarangan dan tidak mempunyai arti komersial, sejak 1930 banyak ditanam secara luas, terutama di Jawa, setelah dimasukkan jenis-jenis pepaya semangka oleh Dinas Perkebunan Rakyat antara tahun 1925 dan 1930. Untuk mendapat pepaya yang seragam, pengetahuan tentang memilih jenis adalah mutlak dan untuk melakukan pemilihan ini amat perlu orang sedikit banyak mengetahui tentang biologi bunga pepaya ( Satiaderadja, S, 1969 : 64 ).
      Buahnya  yang disukai oleh semua golongan  tidak terkecuali makanan bayi, serta pakan berbagai jenis burung. Ada juga yang dimanfaatkan dengan mengambil getah papainnya, yang tergolong atas dua  kelompok besar yaitu papaya burung dan papaya semangka. Ada lagi papaya Bangkok dengan buah yang bulat ujung runcing dengan. Umumnya papaya menyukai tanah yang subur, gembur, lembap, dan tidak tergenang. Saat tanam yang tepat ialah 5 bulan sebelum musim hujan. biji yang baik diambil dari bagian tengah buah yang telah masak karena ada juga papaya jantan yang hanya berbunga atau terpencil tetapi tidak berubah (Sukamto,2007).
Menurut Wood  et  al.  (2000), perkecambahan  pada benih  pepaya  yang dikeringkan  hingga  kadar  air  5% sebenarnya bukan disebabkan oleh hilangnya viabilitas, melainkan  karena  terjadinya  induksi  dormansi. Terjadinya  induksi  dormansi  dan  pemecahannya  perlu dipelajari agar benih dapat disimpan dengan aman  pada kadar air  rendah, untuk menekan  laju metabolisme dan meningkatkan daya simpannya ( Sari, M, dkk, 2005 ).
            Menurut Chow  dan  Lin, ( 1991), benih  pepaya diselimuti  oleh sarcotesta,  suatu  lapisan  yang mengandung  senyawa  fenolik,  khususnya  phydroxybenzoic  acid ( Sari, M, dkk, 2005 ).
            Bila  lapisan  tipis  sarcotesta  tertinggal,  maka lapisan  ini  tidak  hanya  dapat  menghambat  perkecambahan melalui kandungan  senyawa  fenolik yang  tinggi, tetapi  juga  membentuk  lapisan  yang  mengganggu permeabilitas  benih, menghambat  efektifitas masuknya zat-zat stimulasi perkecambahan.  Impermeabilitas pada benih pepaya yang dikeringkan bersama sarcotesta  kemungkinan  tidak  hanya disebabkan  adanya  lapisan  tipis  sarcotesta  yang masih tertinggal  setelah  dicuci,  tetapi  juga  oleh  kondisi  testa yang  lebih masif dan adanya  senyawa  fenolik  yang  tinggi  dapat berpengaruh  terhadap  kondisi  testa  sehingga  bersifat lebih  impermeabel ( Sari, M, dkk, 2005 ).
            Menurut Magdali dan Mercado (2003) menyatakan, bibit pepaya ang akarnya banyak bercabang adalah tanaman berbubga betina dan tidak banyak cabang adalah berbunga jantan. Hasil determinasi seks tersebut dimantapkan dengan menggunakan PCR (R, Triatminingsih, 2009).
      Perlakuan  pendahuluan  (pra perkecambahan)  yang  tepat  perlu  diperoleh  untuk menghilangkan  efek  negatif  yang  mungkin  timbul. Penelitian  ini  bertujuan  untuk  mempelajari  pengaruh keberadaan  sarcotesta  dan  pengeringan  benih  terhadap viabilitas dan dormansi benih pepaya. Perkecambahan benih dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor dari benih itu sendiri maupun faktor lingkungan. Pembuangan aril dapat menghasilkan perkecambahan yang lebih cepat dan lebih serempak. Oleh karena itu dianjurkan agar benih papaya yang akan ditanam dibuang arilnya, dicuci dan dikeringkan. Aril benih papaya ternyata menghambat perkecambahan benih papaya. Perkecambahan benih papaya ternyata juga dipengaruhi cahaya dan suhu karena benih papaya memerlukan cahaya untuk berkecambah yang mana sangat berpengaruh pada suhu (Suwarno, F,C,2000).
untuk  berkecambah,  benih pepaya memer1ukan  cahaya.  Kebutuhan  cahaya  ini  dapat  diberikan  sebe1um  benih  ditanam,  me1a1ui  penjemuran.  pengeringan  benih  dengan  oven  40°C  tidak mendorong  perkecambahan  benih  da1am  kondisi  ge1ap.  Penyerapan  air pada  kondisi  ge1ap  sama  dengan  pada  kondisi  terang. Ini menunjukkan  bahwa  tidak  berkecambahnya  benih  pada  kondisi ge1ap  bukan  disebabkan  impermeabi1itas  ku1it  benih ( Suarno, F,C, 2000).



BAB 3. METODOLOGI
3.1 Tempat dan waktu
Kegiatan praktikum faktor – faktor yang berpengaruh terhadap perkecambahan benih pepaya dilakukan di Fakultas Pertanian Universitas Jember pada hari selasa, tanggal 20 Maret 2012 pukul 14.00 WIB – selesai.

3.2. Alat dan bahan
3.1.1        Alat
1.        Cawan petri
2.        Pinset
3.        Alat pengecambah

3.1.2 Bahan
1.        Buah pepaya yang telah masak ( masak fisiologis )
2.        Abu dapur
3.        Subtrat kertas merang
4.        Kapas
5.        Kertas karbon hitam

3.2    Cara kerja
1.        Mempersiapkan benih pepaya yang diambil dari bagian tengah buah pepaya ( lebih kurang 1/3 bagian ).
2.        Membuang arilnya benih pepaya dengan abu kapur, kemudian memcucinya bersih dan mentiriskan.
3.        Membuat perlakuan benih pepaya sebagai berikut :
a.       Tidak mengupas kulit benih / endotestanya.
b.      Mengupas kulit benih sebagian.
c.       Mengupas kulit benih seluruhnya.
Setelah itu mengering anginkan sampai kering atau mengeringkan dengan sinar matahari selama satu hari, kemudian mengecambahkan pada kondisi terang dan gelap.
4.        Membuat media perkecambahan dengan subtrat kertas merang yang dilapisi kapas dalam cawan petri sebanyak enam kombinasi perlakuan dalam dua ulangan.
5.        Membasahi subtrat dengan air kemudian menanam benih pepaya masing – masing sebanyak 25 butir.
6.        Melakukan perkecambahan benih dengan kondisi gelap dan terang. Menutup cawan petri dengan kertas karbon hitam untuk kondisi gelap, sedangkan kondisi terang petridis tanpa tutup, kemudian meletakkan masing – masing perlakuan pada alat pengecambah.
7.        Menjaga kelembapan subtrat perkecambahan dengan memberikan air secukupnya.

















BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Table 1. Hasil Pengamatan Perkecambahan Benih Pepaya
Perlakuan
Ulangan
Perkecambahan
Kulit benih pepaya
Kondisi perkecambahan
Hari ke-8
Hari ke-14
Normal
Mati
Normal
Abnormal
Mati
Benih tidak dikupas KulitNya
Terang
1
0
0
0
0
0
2
0
0
0
0
0
3
0
0
0
0
0
Gelap
1
0
0
0
0
0
2
0
0
0
0
0
3
0
0
0
0
0
Benih Dikupas Kulitnya Sebagian
Terang
1
0
0
0
0
0
2
0
0
0
0
0
3
0
0
0
0
0
Gelap
1
0
0
0
0
0
2
0
0
0
0
0
3
0
0
0
0
0
Benih tanpa kulitnya dikupas seluruhnya
Terang
1
1
0
1
0
9
2
0
0
0
0
10
3
0
0
0
0
0
Gelap
1
0
0
0
0
0
2
0
0
0
0
0
3
0
0
0
0
0





Table 2. Jumlah Kecambah Normal          
Jumlah kecambah normal
perlakuan
Tidak dikupas
Kupas sebagian
Kupas semua
Terang
0
0
1
Gelap
0
0
0

Table 3. Jumlah Kecambah Mati Dan Abnormal
Jumlah Kecambah Mati Dan Abnormal
Perlakuan
Tidak dikupas
Dikupas sebagian
Dikupas semua
Terang
0
0
19
Gelap
0
0
0

 Gtafik 1. Jumlah Kecambah Normal

Grafik 2. Jumlah Kecambah Mati Dan Abnormal

4.2 Pembahasan
Dari data diketahui terdapat 3 perlakuan berbeda yaitu biji papaya yang tidak dikupas kulitnya/endotestanya, biji papaya yang dikupas sebagian kulitnya, dan biji papaya yang dikupas seluruh kulitnya dan dari perlakuan tersebut ada yang di tempatkan di tempat gelap yang cawan petrinya diberikan kertas karbon hitam dan ada yang di tempatkan di tempat yang terang dengan cawan petri dibiarkan terbuka. Hasil pengamatana menunjukkan benih kecambah yang tumbuh normal pada tempat yang terang yaitu pada perlakuan dikupas seluruh kulitnya ada 1 biji, pada perlakuan dikupas sebagian kulitnya, dan pada perlakuan yang tidak dikupas kultinya biji papaya tidak dapat berkecambah dan tidak mati tetapi masih dalam keadaan istirahat, hal ini terjadi pada setiap kondisi perkecambahan baik dalam keadaan gelap maupun terang. Hasil pengamatan pada kecambah yang mati didapatkan hasil untuk biji papaya yang dikupas seluruhnya dan diletakkan di tempat yang terang sejumlah 19 biji, biji yang tidak dikupas, dan biji yang dikupas sebagian sejumlah 0, dan untuk biji papaya yang tidak dikupas, dikupas sebagian dan dkupas seluruhnya yang diletakkan di tempat yang gelap sejumlah 0 biji. Hal ini disebabkan karena pengaruh kulit dan kondisi lingkungannya seperti media untuk perkecambahan kurang lembab maupun cahaya.
Kecepatan berkecambah dihitung dengan cara membagi jumlah kecambah normal pada hari ke-7 dengan jumlah total biji yang dikecambahkan dikali 100%. Sedangkan untuk daya berkecambah dihitung dengan membagi jumlah kecambah normal pada hari ke-14 dengan jumlah total biji yang dikecambahkan dikali 100%, sehingga didapatkan hasil untuk kecepatan berkecambah pada biji yang diletakkan ditempat yang terang adalah 3% dan biji yang diletakkan di tempat yang gelap 0% serta daya berkecambah untuk biji yang diletakkan di tempat yang terang adalah 3% dan biji yang diletakkan di tempat yang gelap juga 0%.
Dari hasil pengamtan didapatkan bahwa proses perkecambahan biji papaya pada semua perlakuan hanya satu perlakuan yang mampu tumbuh dan paling banyak  biji tidak tumbuh atau mati yaitu pada perlakuan kulit yang dihilangkan semua, hal ini ditunjukkan oleh grafik. Dimana dalam grafik hanya satu yang menunjukkan penigkatan tumbuh dan kematian pada biji papaya. Pada frafik pertama menunjukkan adanya  pertumbuhan biji sebanyak 1 biji pada keadaan terang perlakuan kulit dihilangkan semua, dan pada grafik ke dua menunjukkan jumlah kematian pada biji papaya sebanyak 19 biji pada perlakuan yang sama.
Banyak faktor yang mengontrol proses perkecambahan biji, baik yang bersifat internal dan eksternal. Secara internal proses perkecambahan biji ditentukan keseimbangan antara promoter dan inhibitor perkecambahan, terutama asam gliberelin (GA) dan asam abskisat (ABA). Faktor eksternal dipengaruhi oleh oksigen, suhu, dan cahaya. Oksigen dipakai dalam proses oksidasi sel untuk menghasilkan energi. Perkecambahan memerlukan suhu yang tepat untuk aktivasi enzim. Perkecambahan tidak dapat berlangsung pada suhu yang tinggi, karena suhu yang tinggi dapat merusak enzim. Pertumbuhan umumnya berlangsung baik dalam keadaan gelap. Perkecambahan memerlukan hormone auksin dan hormone ini mudah mengalami kerusakan pada intensitas cahaya yang tinggi. Tetapi dari hasil praktikum ini menunjukkan bahwa perlakuan yang terkena cahaya memilik kemampuan untuk tumbuh dalam fase waktunya dan juga banyak biji yang mati hal ini dipengaruhi oleh rusaknya hormone aukin karena pengaruh cahaya yang tinggi. Sedangkan untuk perlakuan yang gelap biji tidak mati tetapi masih istirahat.
Faktor yang dapat menyebabkan biji papaya tidak berkecambah adalah adanya aril, aril merupakan lapisan kulit biji papaya yang berupa zat berwarna keputihan lunak dan agak kering. Aril mengandung protein kasar, serat kasar dan abu yang dapat berpengaruh negatif terhadap perkecambahan biji, jika aril tidak dibuang maka kulit tersebut bersifat impermeable terhadap air atau udara padahal air atau udara tersebut dibutuhkan untuk perkecambahan. Faktor suhu dan cahaya juga mempengaruh perkecambahan biji papaya pada perlakuan biji yang diletakkan di tempat yang gelap biji lebih banyak yang terkontaminasi dan dinyatakan abnormal karena biji terkontaminasi oleh jamur, selain itu pada saat kegiatan praktikum media yang digunakan yaitu substrat kertas merang kurang terjaga kelembapannya sehingga perkecambahan tidak dapat tumbuh sesuai dengan fase yang seharusnya terjadi.
Pengaruh cahaya pada proses perkecambahan sangat penting karena pada proses perkecambahan dan faktor lingkungan yang berpengaruh adalah air, suhu, dan kadar oksigen. Cahaya di sini digunakan untuk menaikkan suhu bila diperlukan pada saat berkecambah dan kebutuhan tersebut tidak terus-menerus terjadi, faktor air juga berpengaruh terhadap perkecambahan benih papaya karena air berfungsi untuk melunakkan kulit benih, pertukaran gas, mengencerkan protoplasma, dan mentranslokasikan cadangan makanan. Hasil percobaan terlihat pada perlakuan kulit yang dikupas seluhnya pada tempat terang biji yang tumbuh berjumlah 1 biji dan pada tempat gelap berjumlah 0 biji, hal ini membuktikan bahwa seseungguhnya cahaya merupakan faktor yang begitu penting termasuk air.
Dari hasil dokumentasi yang diambil penggunaan biji bagian tengah papaya pada praktikum ini, karena pada bagian tengah papaya tersebut biji papaya terkumpul dan pada bagian tersebut kandungan pulp atau lapisan yang berlendir yang berfungsi untuk menjaga biji dari kekeringan sehingga pada saat digunakan praktikum tersebut biji papaya masih tersedia kandungan air di dalamnya. Gambar yang didapatkan dari praktikum menunjukkan keadaan biji setiap perlakuan masih dalam keadaan istirahat tetapi pada perlakuan kulit biji yang dikupas semua yang dilatakkan pada kondisi terang biji yang tumbuh hanya 1 biji sedangkan yang mati 19 biji, hal ini dikarenakan karena banyaknya air yang terdapat pada media perkecambahan dan cahaya yang hanya mampu menyerap air sedikat sehingga biji mati atau busuk. Sedangkan pada biji yang beristirahat, biji masih membutuhkan waktu untuk mampu berkecambah karena faktor linkungan yaitu substrat kertas merang kurang terjaga kelembapannya sehingga perkecambahan tidak dapat tumbuh sesuai dengan fase yang seharusnya terjadi.


























BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1              KESIMPULAN
Faktor yang dapat menyebabkan biji papaya tidak berkecambah adalah adanya aril, jika aril tidak dibuang maka kulit tersebut bersifat impermeable terhadap air atau udara, faktor suhu dan cahaya, substrat kertas merang kurang terjaga kelembapannya sehingga perkecambahan tidak dapat tumbuh sesuai dengan fase yang seharusnya terjadi. Penggunaan benih bagian tengah papaya karena pada bagian tengah tersebut benih papaya terkumpul dan pada bagian tersebut kandungan pulp atau lapisan yang berlendir yang berfungsi untuk menjaga biji dari kekeringan.

5.2              SARAN
Pada praktikum perkecambahan benih papaya diharapkan praktikan dapat selalu menjaga kelembapan media yang digunakan yaitu substrat kertas merang karena air sangat berpengaruh terhadap proses perkecambahan sehingga tingkat kegagalan dalam melakukan perkecambahan ini dapat dihindari.














DAFTAR PUSTAKA
Sari, M, dkk. 2005. Pengaruh Sarcotesta Dan Pengeringan Benih Serta Perlakuan Pendahuluan Terhadap Viabilitas Dan Dormansi Benih Pepaya (Carica Papaya L). Jurnal  Agron Vol. 33(2) : 23 – 30.

Satiaderadja, S. 1969. Pekarangan dan Buah-buahan. CV Yasaguna. Jakarta.
Sukamto. 2007. Kamus Pertanian. Aneka Ilmu. Semarang.
Suwarno,F,C. 2000. Pengaruh Cahaya dan Perlakuan Benih Terhadap Perkecambahan Benih Pepaya (carica papaya L). Jurnal Agro vol.15(3):49-50.

R, Triatminingsih. 2009. Pengaruh Pemotongan Akar Dan Umur Bibit Terhadap Pertumbuhan Dan Jenis Seks Tanaman Pepaya. Jurnal Hort Vol. 19(1) : 28 – 34.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar