coursor

Hetalia: Axis Powers - Taiwan

Sabtu, 18 Mei 2013

uji biologi adanya hama dan penyakit dalam tanah



BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
            Media tanam merupakan salah satu syarat utama yang harus ada sebelum melakukan budidaya tanaman, baik itu yang bersal dari tanah maupun media buatan lainnya. Media tanam tersedia di alam secara luas dan beragam, media yang telah ada dapat di tanami berbagai tanaman yang ingin ditanam seperti tanaman semusim (tomat atau tanaman hidroponik, maupun jenis tanaman lainnya). Media tanam yang digunakan belum tentu sehat, bahaya didalam media tanam terdapat berbagai macam dan jenis mikroorganisme yang hidup baik yang bersifat patogenik maupun simbiotik. Mikrooganisme yang ada didalam tanah dapat sebagai sumber patogen atau penyait bagi tanaman budidaya nantinya ketika ditanami.
            Untuk dapat mencegah terjadinya serangan hama dan penyakit yang disebakan dari media tanam yang kurang baik dan sehat maka sebelum melakukan proses budidaya media tanam yang digunakan harus benar - benar dipersiapakan dengan baik dan bersih dari penyakit agar tidak timbul hama dan penyakit yang dapat menurunkan produksi hasil pertanian. Salah satu cara yang dapat digunakan adalah dengan menggunakan media tanam yang subur umumnya media yang sehat merupakan media yang terbebas dari patogen dan jamur, selain itu media juga harus cukup mengandung unsur hara dan bahan organik.
Masalah yang sangat serius pada budi daya adalah hama dan penyakit pada media tanam, terutama untuk pembibitan.. Media tanam yang steril sangat penting untuk memperoleh bibit tanaman yang bebas penyakit. Penggunaan bahan kimia seperti fumigan merupakan cara yang umum untuk membasmi hama dan penyakit dalam tanah. Selain mudah penggunaannya, bahan ini dapat membasmi nematoda, cendawan, dan serangga berbahaya di dalam tanah serta biji - biji gulma. Namun, dengan makin tumbuhnya kesadaran masyarakat akan keamanan pangan dan kesehatan lingkungan, penggunaan bahan kimia untuk sterilisasi tanah mulai dikurangi.  Salah satu medote atau cara lain yang dapat digunakan digunakan adalah dengan uji biologi media tanam dari hama dan penyakit dalam tanah yang telah dilakukan dalam praktikum, dengan uji biologi ini maka kita dapat mengetahui media tanam yang digunakan tersebut merupakan media yang sehat atau tidak sehat dengan melihat hasil apa yang kita tanam, dan akan di bahas pada laporan praktikum kali ini.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah agar praktikan mengerti dan memahami cara menguji biologi adanya hama dan penyakit di alam media tanam serta mengetahui gejala serangan dan cara pengendaliannya.






















BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
Tanah adalah sebuah komponen dari keseluruhan ekosistem dan tidak dapat dilepaskan dari  kesehatan ekosistem tersebut. Di bidang pertanian, tanah yang sehat  memiliki kondisi  fisik, kimia dan biologis optimal untuk produksi tanaman dan memiliki kesanggupan untuk menjaga  kesehatan tanaman serta kualitas ekosistem yang mencakup air dan tanah (Hindersah dan Simarmata, 2004).
Menurut Simarmata et al (2003) menyatakan, tanah sehat dan subur merupakan  sistem hidup dinamis yang dihuni oleh berbagai organisme (mikro flora, mikro fauna, serta meso dan makro fauna). Organisme tersebut saling berinteraksi membentuk suatu rantai makanan sebagai manifestasi aliran energi dalam suatu ekosistem untuk membentuk tropik rantai makanan (Hindersah dan Simarmata, 2004).
Tomat (Lycopersicum esculentum Mill) adalah salah satu komoditas pertanianyang sangat bermanfaat bagi tubuh karena mengandung vitamin dan mineral yangdiperlukan untuk pertumbuhan dan kesehatan. Buah tomat mengandung karbohidrat, protein, lemak dan kalori. Buah tomat merupakan komoditas multiguna yangberfungsi sebagai sayuran, bumbu masak, buah meja, penambah nafsu makan, bahanpewarna makanan, sampai kepada bahan kosmetik dan obat-obatan ( Amsar, 2011).
Di dalam tanah terdapat berbagai jenis biota tanah, antara lain mikroba (bakteri, fungi, aktinomisetes, mikroflora, dan protozoa) serta fauna tanah. Masing-ma-sing biota tanah mempunyai fungsi yang khusus ( Asmar, 2011).
Fusarium sp. Merupakan fungi yang bersifat saprofit tanah tetapi dapat bersifat patogen terhadap banyak tumbuhan. Fungi ini juga dapat menyebabkan pembusukan pada akar tanaman dan juga berperan pada proses dekomposisi (Utomo, 2000).
Penyakit layu oleh fusarium, menyerang tanaman dengan gejala tulang daun menjadi pucat, tangkai daun merunduk, layu dan tumbuhan lama kelamaan akan mati. Cara pengendaliannya dengan sterilisasi tanah persemaian dan menanam varietas yang resisten (Maskar dan Garuf, 2006).
Patogen (penyebab penyakit) tular tanah menyebabkan kerusakan yang berat pada tanaman pertanian pada umumnya dan menurunkan baik kuantitas maupun kualitas produksi.hal ini terjadi, terutama pada areal yang ditanami tanaman yang sama secara terus menerus. Oleh karena itu diperlukan metode pengelolaan penyakit yang efektif dan ekonomis untuk menjamin produksi yang tinggi dan menguntungkan secara konsisten.  Kerusakan tanaman karena patogen tular tanah dapat diperkecil dengan memanipulasi satu atau lebih komponen yang terlibat dalam timbulnya suatu penyakit, yaitu patogen, tanaman inang, dan mikroorganisme tanah. Faktor yang  paling penting dalam pengelolaan  penyakit yang disebabkan oleh patogen tular tanah ini adalah mengurangi tingkat inokulumnya di bawah ambang ekonomi sebelum tanaman yang peka di tanam (Yulianti, 2009).
Sistem pertanaman berpengaruh terhadap sifat tanah karena adanya sisa-sisa tanaman dan perakaran yang ditinggalkan. Pengaruh sistem pertanaman ini akan meningkatkan bahan organik tanah dari sisa tanaman dan perakaran, sehingga akan meningkat-kan aktivitas mikroba tanah (Margarettha, 2009).
Serangan nematoda menimbulkan gejala yang beragam tergantung pada jenis nematoda, jenis tumbuhan yang terserang dan keaadaan lingkungan, menurut Agrios (1996), nematoda yang menyerang akar akan menimbulkan gejala terutama pada akar, tetapi gejala ini biasanya disertai dan munculnya gejala pada bagian atas tanaman, yaitu berupa gejala tanaman kerdil, daun menguning, dan layu yang berlebihan dalam cuaca panas.
Meloidogyne spp. merupakan salah satu patogen sbawah tanah yang menjadi kendala dalam pengembangan sayuran tingkat tinggi di daerah tropis dan inang utamanaya adalah wortel, mentimun, labu, kentang, kubis, terong, bayam dan tomat. Akibat kemampuannya dalam mneginfeksi relatif lebih besar dan kisaran tanaman inang yang luas maka Meloidogyne spp. merupakan genus penting dari nematoda parasit tanaman. Tanaman yang terserang menjadi kurus, kerdil, hasil rendah dan kualitas berkurang (Dropkin 1991).
Pengendalian nematoda dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti cara bercocok tanam, sanitasi, kimia dan pengendalian hayati. Pengendalian dengan bercocok tanam melalui pengaturan waktu tanam yaitu menanam tanaman pada waktu yang tidak sesuai dengan perkembangan nematoda, membajak tanah agar nematoda yang berada pada lapisan dalam tanah akan naik kepermukaan tanah sehingga terjadi pengeringan oleh panas matahari, kelembaban tanah, perbaikan dan komposisi tanah dengan pemupukan (Dropkin 1991).
























BAB 3. METODOLOGI
3.1 Waktu Dan Tempat
Pelaksanaan praktikum acara uji biologi adanya hama dan penyakit dalam tanah bertempat di Laoratorium Hama dan Penyakit Tumbuhan, Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian. Sedangkan waktu pelaksanaan praktikum yaitu pada tanggal 27 April 2012, pukul 14.00 WIB - selesai.

3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
1.      Pot plastik
2.      Kayu lanjaran

3.2.2 Bahan
1.      Media tanam
a.       Tanah (KNO)
b.      Tanah + Bahan Organik (BNO)
c.       Tanah +Sekam(SNO)
2.      Bibit Tomat (Sebagai tanaman indikator)
3.      Air

3.3 Cara Kerja
1.      Memasukkan beberapa macam media tanam kedalam timba plastic/pot plastic masing-masing sesuai perlakuan dan jumlah 4 pot
2.      Menanami masing-masing timba plastic yang berisi media tanam dengan tanaman indicator (bibit tomat) 1 pot 3 bibit tomat.
3.      Tanaman indicator dipelihara dengan baik agar tidak mati dan setiap hari dilakukan pengamatan dan hitung jumlah tanaman yang menunjukan gejala dan mendeskripsikan gejalanya untuk menyimpulkan penyebab nematodanya
4.      Menumbuhkan tanaman terus sampai berumur 28 hari setelah tanam


3.4 Pengamatan
1.      Mengamati adanya gejala atau hal lain yang timbul di atas permukaan tanah misalnya tanaman layu, menguning, daun mengelintir, gulama yang tumbuh dan lain-lain dilakukan setiap hari atau tiga hari sekali. Selanjutnya tentukan penyebab penyakitnya berdasar pada gejala yang muncul serta jenis-jenis gulama yang tumbuh
2.      Memasukkan data-data yang diperoleh ke dalam table pengamatan kemudian cari kesimpulannya






















BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Tabel 1. Parameter pengamatan uji biologi tanah dengan indikator tanaman tomat pada ulangan 1sampai 4
Media
Pot
Hari ke-
7
14
21
Warna daun
Kondisi batang
Bentuk tanaman
Warna daun
Kondisi batang
Bentuk tanaman
Warna daun
Kondisi batang
Bentuk tanaman
KNO
1
H
k
N
HK
k
N
HK
k
N
2
H
k
N
HK
k
N
HKK
k
N
3
H
k
N
HKK
k
N
HKK
k
N
4
H
k
N
BP
k
N
BP
k
N
SNO
1
H
k
N
BH
k
N
BCH
L
Ab
2
H
k
Ab
BH
k
Ab
BH
k
Ab
3
H
k
N
BP
L
N
BK
k
N
4
HCL
L
M
M
M
M
M
M
M
BNO
1
K
k
N
BP
L
Ab
M
M
M
2
HC
k
N
H
k
N
M
M
M
3
H
k
N
H
k
N
M
M
M
4
H
k
N
H
k
N
M
M
M
T.pisang
1
BK
k
N
BK
k
N
BCK
L
N
2
BK
k
N
BK
k
N
BCK
L
N
3
BK
k
N
BK
k
N
M
M
M
4
BK
k
N
BK
k
N
M
M
M
Keterangan :
HCL : Hijau coklat layu  BH: bercak hijau                 Ab: abnormal
L : lunak                          BP: bercak putih                 k: keras           
M : mati                           BCH: bercak coklat hijau   H: hijau
N : normal                       BK: bercak kuning              BCK: bercak coklat kuning
HKK: hijau kuning kecoklatan

4.2  Pembahasan
Dari tabel hasil pengamatan diatas dapat dilihat bahwa pada pengamatn pertama yaitu pada kondisi tanaman tomat berumur 7 hari  setelah tanam, ditemukan penyakit dumping off/Rebah Kecambah, Busuk Pangkal Batang yang pada perlakuan sekam + tanah (SNO) yaitu pada ulangan ke tiga yang kemudian menyebabkan tanaman tersebut roboh dan akhirnya mati. Sedangkan pada perlakauan lain tidak ditemukan penyakit rebah kecambah. Semai tomat sering kali terserang penyakit semai roboh yang mengakibatkan bibit yang masih kecil sakit dan roboh (damping off). Penyebab penyakit ini adalah Rhizoctonia, Phytophthora nicotianae, dan Corticium rolfsii.
Sedangkan untuk pengamatan tanaman berumur 14 hari setelah tanam terdapat layu pada perlakuan tanah. Layu ini dapat disebabkan oleh kurangnya penyiraman, keruangan unsur N atau karena terkena penyakit layu bakteri. Namun dilihat dari gejalanya ini merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri maupun jamur dimana pada tanaman mengalami gejala seperti pada daun ditemukan bercak kuning, dan daun kecoklatan pada bagian ujung daun tomat tersebut. Pada hari ke 14 ini juga adanya serangan dari jamur rebah kecambah dimana pada bagian batang tomat ditemukan memiliki kelunakan dimana tanaman ada yang tumbuh optimal yaitu pada media SNO dan abnormal pada media BNO, serta KNO dan tanah pisang hal ini dikarenakan adanya serangan dari cendawan dan bakteri yang terdapat pada media tumbuh tersebut. Beberapa faktor juga dapat mempengaruhi tumbuhnya atau menyebarnya cendawan dan bakteri yang menyerang tanaman tomat tersebut, faktor itu bida suhu, kelembabn dan media campura yang bersifat pembawa.
Dari data juga menunjukkan bahwa untuk hari terakhir yaitu pada hari ke-21 tanaman tomat yang sebagai indikator media tanam mengalami kematian yang cukup banyak dibanding dengan yang masih hidup. Tanaman tomat yang masih hidup juga tidak terhindar dari serangan bakteri tersebut, tanaman juga menunjukkan gejala adanya bercak pada daun dan batang yang lunak dan juga yang batangnya keras. Selain terserang oleh bakteri tanaman ini juga diserang oleh hama trips yang menimbulkan bercak putih panjang pada daun. Media campuran yang dilakukan pada media seperti pencampuran oleh bahan organic, sekam dapat memicu timbulnya patogen karena bahan tersebut belum tentu steril atau bersih dari patogen sehingga media campuran tersebut bisa dikatan sebagai faktor pembawa patogen. Dimana sekam merupakan penyedia nurisi untuk tempat tumbuhnya jamur, begitu juga dengan kompos yang didapat dari toko-toko juga teryata tidak steril.
Faktor yang mpengaruhi seperti suhu tinggi mendukung perkembangan penyakit. Di dataran rendah penyakit timbul lebih berat karena suhu udara relatif tinggi. Bakteri berkembang baik di tanah alkalis yang suhunya agak tinggi di saat banyak hujan. Intensitas penyakit sangat dipengaruhi oleh tanaman terinfeksi pada musim sebelumnya. Gejala Serangan .Tanaman layu dimulai dari pucuk (daun muda) menjalar ke daun bagian bawah sampai seluruh daun layu dan tanaman mati. Cendawan membentuk miselium yang berwarna gelap. Konidiofor keluar dari jaringan tanaman sakit dan berwarna gelap. Cendawan dapat bertahan pada tanaman sakit, sisa-sisa tanaman sakit dan biji. Dalam jaringan daun sakit, miselium dapat bertahan 1 tahun atau lebih dan dalam suhu kamar konidium dapat tetap hidup selama 17 bulan. Biji dari buah sakit dapat terinfeksi. Konidium mudah lepas oleh angin dan dapat disebarkan oleh kumbang.
Patogen seperti cendawan dapat menyerang bibit dan tanaman muda. Gejala dapat terjadi pada daun, dan batang. Pada daun terdapat bercak -bercak kecil bulat, bersudut, dan berwarna coklat tua sampai hitam. Di sekitar bercak nekrotik terdapat halo sempit. Pada serangan berat banyak terdapat bercak, coklat pada ujung daun kemudian menyoklat dan menjadi layu serta gugur sebelum waktunya. Selain tanaman tomat diserag oleh patogen juga terdapat serangan dari hama yaitu hama trips yang menyebabkan gejala pada daun seperti adanya bercak putih seperti garis yang melengkok – lengkok, hal tersebut disebabkan oleh hama trips yang berada di bawah permukaan dan atas.







Gambar 1. Daun tanaman tomat yang terkena penyakit layu (kiri) dan daun tomat yang terkena hama thrips (kanan)
Dalam praktikum yang telah kami adakan untuk pengamatan uji biologi yang bagian terserangnya nemetoda yang menimbulkan puru pada akar tidak ditemui pada akar tanaman dari setiap tanaman tomat yang ditumbuhkan pada setiap media yang berbeda hal ini dikarenakan oleh tanaman yang baru tanam mengalami kematian akibat serangan dari bakteri maupun jamur yang bersifat patogen bagi tanaman yang masih muda yaitu seperti penyakit rebah kecambah yang menyerang pada tanaman muda atau bibit, sehingga untuk nematoda yang bersifat parasit bagi tanaman tidak dapat menyerang karena faktor perakaran tanaman yang masih begitu kecil dan muda utuk diinfeksi oleh nematda tersebut.
Serangan nematoda menimbulkan gejala yang beragam tergantung pada jenis nematoda, jenis tumbuhan yang terserang dan keaadaan lingkungan, nematoda yang menyerang akar akan menimbulkan gejala terutama pada akar, tetapi gejala ini biasanya disertai dan munculnya gejala pada bagian atas tanaman, yaitu berupa gejala tanaman kerdil, daun menguning, dan layu yang berlebihan dalam cuaca panas.
Puru akar merupakan ciri khas dari serangan nematoda Meloidogyne. Puru akar tersebut terbentuk karena terjadinya pembelahan sel-sel raksasa pada jaringan tanaman  sel-sel ini membesar dua atau tiga kali dari sel-sel normal. Selanjutnya akar yang terserang akan mati dan mengakibatkan pertumbuhan tanamn terhambat. Respon tanaman terhadap nematoda puru akar merupakan respon dari seluruh bagian tanaman dan respon dari sel-sel tanaman, seluruh bagian tanaman memberikan respon terhadap infeksi dan menurunnya laju fotosintesis, pertumbuhan dan hasil. Beberapa spesies nematoda puru akar membentuk tipe puru yang sama sehingga sulit untuk dapat dibedakan satu dengan lainnya. Puru yang dihasilkan oleh nematoda tergantung dari spesies tanaman.




























BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1  Kesimpulan
Dari hasil praktikum dan pembahasan diatas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1.      Dari ke 3 perlakuan media semuanya terdapat penyakit yang menyerang tanaman tomat. Penyakitnya anatara lain layu bakteri, dan bercak daun. Namun terdapat juga hama, yaitu hama thrips.
2.      Media tanam yang digunakan dalam praktikum kali ini pada dasarnya hampir semua kurang sehat karena pada media tanam yang diperlakukan terdapat penyakit yang berasal dari tanah maupun hama.
3.      Tanaman yang mengalami sakit menunjukkan bahwa tanah atau media yang digunakan tidak sehat karena media tersebut sudah terinfeksi oleh patogen dan nematoda.

5.2  Saran
Diperlukannya ketekunan dan keteraturan dalam melakukan perwatan tanaman indikator dapat diketahui pada perlakuan media mana yang seharusnya terdapat nematoda puru akar serta pemahaman dasar oleh praktikan tentang uji biologi adanya penyakit, hama, gulma tanaman.











DAFTAR PUSTAKA
Agrios, N.G. (1996) Ilmu Penyakit Tumbuhan. Terjemahan Busnia, M dan Martoredjo, T.  , Yogyakarta : Gadjah Mada University Press

Dropkin, V.H. (1996). Pengantar Nematologi Tumbuhan (Edisi kedua). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. (Terjemahan : Supratoyo).

Hidayah, N dan Djajad. 2009 Sifat-Sifat Tanah yang Mempengaruhi Perkembangan Patogen Tular Tanah pada Tanaman Tembakau. Perspektif 8(2) : 74- 83.

Hindersah dan Simarmata. 2004.  Potensi Rizobakteri  Azotobacter dalam Meningkatkan Kesehatan Tanah. Jurnal Natur Indonesia 5(2): 127-133.

Maskar dan Gafur, S. 2006. Budidaya Tomat. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian. Sulawesi Tengah.

Margarettha. 2009. Studi Biologi Tanah Dalam Penerapan Beberapa Teknik Pengolahan Tanah Dan Sistem Pertanaman Pada Ultisol. Jurnal Agronomi 8(2): 117-120.

Utomo, B. 2000. Eksplorasi Fungi Pada Tanah Gambut Berrada Pada Lapisan Fibrik, Hemik, Dan Saprik. Media Unika 73 Edisi ke-4

Yulianti, T. 2009. Pengelolaan Patogen Tular Tanah Untuk mengembalikan Kejayaan tanaman tomat. Perspektif  8(1) : 1–16.

1 komentar:

  1. Slingo Casino Review - Exclusive 200% Bonus up to €100 + 100 Spins
    the casino site. Try 카지노 this slot for free with the no deposit bonus for online 제왕 카지노 casino games, as well as demo free play! Rating: 5 · 샌즈카지노 ‎Review by choegocasino.com

    BalasHapus